Angka Sudah Benar, Keputusan Tetap Buntu
Satu situasi yang mungkin Anda kenali
Bayangkan Anda staf program di sebuah puskesmas. Setiap bulan Anda menerima laporan kepatuhan pasien tuberkulosis dalam menuntaskan pengobatan. Dua bulan terakhir angkanya turun. Laporan itu rapi: sumber datanya jelas, cara menghitungnya benar, grafiknya bagus. Kepala puskesmas bertanya satu kalimat, dan seluruh laporan itu mendadak tidak berguna: "Jadi kita harus mengubah apa?"
Anda tidak bisa menjawab. Bukan karena datanya salah, tetapi karena data itu memang tidak pernah dirancang untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Laporan tersebut memberi tahu berapa banyak pasien berhenti berobat. Ia tidak memberi tahu apa yang terjadi di rumah pasien pada minggu kelima, mengapa obat yang gratis tetap terasa mahal bagi seseorang yang harus izin kerja setiap kali kontrol, atau bagaimana seorang kader memutuskan siapa yang layak dikejar dan siapa yang dianggap "sudah tidak bisa ditolong".
Situasi ini berulang di banyak tempat dengan wajah berbeda. Sebuah sekolah tahu nilai rata-rata muridnya turun tetapi tidak tahu apa yang berubah di ruang kelas. Sebuah koperasi tahu jumlah anggota aktifnya menyusut tetapi tidak tahu cerita apa yang beredar di antara anggota yang pergi. Sebuah aplikasi tahu berapa pengguna yang berhenti di halaman pembayaran tetapi tidak tahu keraguan apa yang muncul di kepala mereka pada detik itu.
Bukan soal angka buruk, tapi soal pertanyaan yang beda kamar
Godaan pertama orang yang baru belajar metode penelitian adalah menganggap kualitatif sebagai "penelitian untuk orang yang tidak suka statistik". Anggapan itu keliru, dan kekeliruannya mahal, karena melahirkan skripsi, laporan, dan kajian yang memakai wawancara mendalam untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya menuntut hitungan, atau sebaliknya menyebar kuesioner untuk memahami hal yang hanya bisa dipahami lewat percakapan panjang.
Penelitian kualitatif bukan penelitian minus angka. Ia adalah cara kerja yang berangkat dari asumsi berbeda tentang apa yang dianggap sebagai bukti. Kalau penelitian kuantitatif bertanya "seberapa besar, seberapa sering, seberapa kuat hubungannya", penelitian kualitatif bertanya "apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana prosesnya berjalan, dan apa maknanya bagi orang yang menjalaninya".
Dua-duanya bisa benar. Dua-duanya bisa salah kamar. Yang menentukan bukan selera peneliti, melainkan bentuk pertanyaannya dan bentuk jawaban yang dibutuhkan.
Tiga jenis pertanyaan yang tidak bisa dijawab angka
Ada tiga jenis pertanyaan yang secara prinsip tidak bisa diselesaikan dengan menambah ukuran sampel atau memperhalus model statistik:
- Pertanyaan tentang makna. Apa arti "sukses" bagi pedagang kaki lima yang menolak pindah ke lokasi binaan? Makna tidak punya satuan. Ia harus digali, bukan diukur.
- Pertanyaan tentang proses. Bagaimana sebuah keputusan terbentuk, tahap demi tahap, di dalam kepala orang dan di antara orang? Survei menangkap hasil akhir, bukan urutan kejadian yang melahirkannya.
- Pertanyaan tentang hal yang belum punya nama. Anda tidak bisa membuat kuesioner tentang sesuatu yang belum Anda ketahui keberadaannya. Untuk membuat pilihan jawaban A sampai E, Anda harus sudah tahu bahwa A sampai E itu ada.
Yang akan Anda kerjakan di modul ini
Modul ini tidak mengajari Anda mewawancarai orang. Itu urusan modul berikutnya. Di sini Anda melatih hal yang lebih mendasar dan lebih sering diabaikan: menilai apakah sebuah pertanyaan memang layak dibawa ke jalur kualitatif, dan memahami harga yang harus dibayar kalau Anda memilih jalur itu.
Setelah menuntaskan modul ini, Anda akan bisa membedakan tiga hal yang paling sering dicampuradukkan yaitu tujuan penelitian, satuan bukti yang dipakai, dan bentuk kesimpulan yang boleh ditulis. Anda juga akan berlatih mengambil pertanyaan lapangan yang berantakan lalu memutuskan kamarnya, lengkap dengan alasan yang bisa Anda pertahankan di depan pembimbing, atasan, atau siapa pun yang bertanya "kenapa metodenya begitu".
Satu catatan sebelum lanjut: sepanjang modul ini kita akan sering kembali ke kalimat kepala puskesmas tadi. "Jadi kita harus mengubah apa?" adalah pertanyaan yang menuntut pemahaman, bukan sekadar ukuran. Dan pemahaman punya metodenya sendiri.