Empat Belas Halaman yang Dianggap Belum Jadi
Satu baris komentar yang membingungkan
Seorang peserta kelas ini pernah menyetorkan bab tinjauan pustaka setebal empat belas halaman. Ia membaca dua puluh dua artikel, mencatat semuanya, mencantumkan semuanya di daftar rujukan, dan tidak memakai satu kalimat pun tanpa sumber. Secara teknis tidak ada yang bisa dituduhkan. Komentar yang ia terima dari pembimbingnya hanya satu baris:
"Ini belum sintesis."
Ia bingung, dan kebingungannya masuk akal. Semua yang diminta sudah ia lakukan: banyak membaca, mengutip dengan jujur, menulis rapi. Lalu apa yang kurang? Pertanyaan itulah yang kita jawab di modul ini.
Bentuk tulisan yang bermasalah
Kalau susunan tulisan itu kita lihat polanya, kira-kira begini bunyinya. Nama penulis sengaja saya ganti huruf A, B, dan C karena yang sedang kita amati adalah susunannya, bukan isinya, dan saya tidak ingin mengarang kutipan yang seolah-olah nyata.
Menurut A, kesiapan guru dalam memakai perangkat digital dipengaruhi oleh pelatihan. Sementara itu, B menyatakan bahwa ketersediaan fasilitas sekolah lebih menentukan. Adapun C menemukan bahwa usia guru berpengaruh terhadap kesiapan tersebut.
Tiga kalimat, tiga sumber. Lalu paragraf berikutnya memakai pola yang sama persis dengan D, E, dan F. Begitu terus sampai halaman keempat belas.
Coba lakukan satu hal sederhana pada paragraf di atas: tutup semua sumbernya, lalu tanyakan kalimat mana yang tersisa sebagai milik penulis. Jawabannya: tidak ada. Setiap kalimat adalah suara orang lain yang dipindahkan tempatnya. Penulis hadir hanya sebagai tukang angkut.
Yang hilang bukan bacaan
Inilah kekeliruan diagnosis yang paling sering terjadi. Ketika tulisan dinilai "belum sintesis", reaksi pertama biasanya menambah artikel: dari 22 menjadi 35, dari 35 menjadi 50. Hasilnya tulisan yang lebih panjang dengan penyakit yang sama persis. Tiga puluh ringkasan yang dijejer tetaplah ringkasan yang dijejer.
Yang hilang adalah suara penulis — kalimat yang mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh sumber mana pun secara sendiri-sendiri.
Analoginya begini. Membuka daftar hadir rapat berarti memanggil nama satu per satu dan mencatat siapa yang datang. Semua nama tercatat benar, tidak ada yang salah, tetapi rapatnya belum terjadi. Memimpin rapat berarti mempertemukan pendapat: menunjukkan siapa sebenarnya sedang menyanggah siapa, mana perbedaan yang cuma soal istilah, mana yang benar-benar bertentangan, dan apa yang bisa disimpulkan dari perdebatan itu. Kajian pustaka yang berupa daftar berhenti di daftar hadir. Sintesis adalah rapatnya.
Mengapa kebiasaan ini begitu kuat
Ada tiga sebab yang berulang, dan ketiganya sebaiknya Anda kenali pada diri sendiri sejak sekarang.
Pertama, kebiasaan lama. Sejak sekolah, kita dilatih merangkum dan diberi nilai baik ketika rangkuman kita setia pada teks asli. Keterampilan itu berguna, tetapi ia berhenti satu langkah sebelum sintesis dimulai.
Kedua, rasa aman. Selama setiap kalimat punya sumber, tidak ada yang bisa menyalahkan kita. Begitu kita menulis kalimat sendiri, kalimat itu bisa dibantah. Banyak orang memilih tidak berargumen justru karena tidak ingin salah.
Ketiga, salah paham tentang objektivitas. Ada anggapan bahwa berpendapat sendiri membuat tulisan menjadi tidak ilmiah. Padahal yang tidak ilmiah adalah pendapat tanpa dasar. Klaim yang ditopang bukti dari beberapa sumber sekaligus, dan yang jujur menyebut batasnya, justru inti dari kerja ilmiah.
Yang akan kita kerjakan di modul ini
Tiga hal, berurutan:
- Membedakan empat jenis teks — ringkasan, bibliografi beranotasi, tinjauan naratif, dan sintesis — dengan satu alat ukur yang sama: siapa yang berbicara.
- Membedah anatomi satu publikasi ilmiah, supaya Anda tahu bagian mana yang menjawab pertanyaan apa. Petunjuknya: bagian yang paling sering dilewati justru yang paling dibutuhkan penyintesis.
- Membedah satu contoh kajian pustaka dan menunjuk dengan jari kalimat tempat penulisnya mulai berargumen sendiri.
Yang tidak diselesaikan modul ini
Modul ini tidak membahas gaya penulisan rujukan, tidak mengajarkan cara mencari artikel, dan tidak membahat perangkat lunak pengelola pustaka. Semua itu berguna, tetapi bukan penyebab tulisan berhenti menjadi daftar.
Siapkan sebelum lanjut
Ambil tiga sampai lima artikel ilmiah yang relevan dengan topik Anda, dalam naskah lengkap, bukan abstraknya saja. Siapkan juga satu lembar kerja atau buku catatan. Mulai unit berikutnya, kita akan bekerja dengan bahan itu.