Laporannya Rapi, Kenyataannya Tidak
Satu situasi yang mungkin sudah kamu kenal
Misalkan kamu diminta meninjau sebuah program bantuan pangan di tingkat kota. Di tanganmu ada laporan penyaluran: daftar penerima lengkap dengan nama dan alamat, tanggal pembagian tercatat, kolom tanda tangan penerima terisi, dan kesimpulannya menyatakan penyaluran berjalan nyaris sepenuhnya sesuai rencana. Tidak ada kolom kosong. Tidak ada yang janggal di atas kertas.
Masalahnya, di luar kertas ceritanya lain. Seorang ketua RT mengeluh paket datang pada jam kerja sehingga banyak keluarga tidak bisa mengambil sendiri. Seorang warga bercerita ia membubuhkan tanda tangan untuk tetangganya yang sedang di kebun. Ada kabar satu keluarga terdaftar dua kali karena ejaan namanya berbeda di dua dokumen. Tidak satu pun dari cerita itu muncul di laporan.
Dan di sini bagian yang penting: laporan itu belum tentu dipalsukan. Kemungkinan besar laporan itu memang tidak pernah dirancang untuk menangkap hal-hal semacam itu. Formulir penyaluran dibuat untuk membuktikan bahwa barang sudah keluar dan diterima, bukan untuk merekam siapa yang sebenarnya berdiri di depan meja pembagian, pukul berapa ia harus meninggalkan pekerjaannya, atau apa yang terjadi pada keluarga yang tidak datang.
Dorongan yang muncul berikutnya
Begitu ketidakcocokan itu terasa, dorongan yang muncul hampir selalu sama: kalau begitu, ayo turun ke lapangan. Dorongan itu sehat. Ia menandakan kamu sadar ada lapisan kenyataan yang tidak tertangkap oleh dokumen. Tapi dorongan itu belum tentu tepat, dan kalau dituruti tanpa ditimbang, ia mahal.
Mahal dalam arti yang sangat harfiah. Turun ke lapangan menghabiskan hari kerjamu, ongkos transportasi, dan seringkali biaya penginapan. Ia juga menghabiskan sesuatu yang jarang dimasukkan ke anggaran: waktu orang lain. Setiap wawancara satu jam adalah satu jam yang diambil dari orang yang tidak dibayar untuk melayani rasa penasaranmu. Setiap kunjungan ke kantor kelurahan menambah pekerjaan petugas yang antriannya sudah panjang. Ongkos ini nyata meskipun tidak pernah muncul di kuitansi.
Karena mahal, keputusan untuk turun perlu dibayar oleh sesuatu: jawaban yang cukup berharga, dan yang memang tidak bisa diperoleh dengan cara lain yang lebih murah.
Dua kesalahan yang sama mahalnya
Orang yang baru masuk ke riset lapangan biasanya jatuh ke salah satu dari dua lubang.
Lubang pertama: memaksa dokumen menjawab yang tidak bisa dijawabnya. Ini yang terjadi pada laporan penyaluran tadi. Angkanya benar untuk pertanyaan "berapa banyak paket keluar dari gudang", lalu diperlakukan seolah menjawab "apakah bantuan sampai ke orang yang tepat dan berguna baginya". Dua pertanyaan itu berbeda, dan yang kedua tidak akan pernah keluar dari kolom tanda tangan.
Lubang kedua: berangkat ke lapangan untuk memungut sesuatu yang sudah ada di lemari arsip. Ini lebih sering terjadi daripada yang orang kira. Tim menghabiskan dua minggu mewawancarai warga untuk memperkirakan berapa keluarga yang terdaftar, padahal daftarnya ada di kantor kelurahan dan bisa diminta dalam satu jam. Hasilnya lebih kasar, lebih mahal, dan melelahkan semua orang.
Keduanya berasal dari kebiasaan berpikir yang sama: memilih metode lebih dulu, baru mencari pertanyaan yang cocok. Modul ini membalik urutannya.
Yang akan kamu kerjakan di modul ini
Tiga hal, berurutan.
Pertama, kamu akan berlatih memilah pertanyaan: mengenali mana yang sudah terjawab oleh catatan yang ada, mana yang sudah dijawab orang lain sebelumnya, mana yang hanya bisa dijawab dengan hadir dan bertanya langsung, dan mana yang sebenarnya bukan pertanyaan bukti sama sekali.
Kedua, kamu akan mengenali tiga bentuk bukti lapangan yang paling umum dipakai, beserta cara masing-masing bisa menyesatkan. Tidak ada bentuk bukti yang bersih. Yang membedakan peneliti terlatih dari peneliti pemula bukan kemampuan menghindari cacat, melainkan kemampuan menyebut cacat apa yang sedang ia tanggung.
Ketiga, kamu akan menguji kelayakan satu rencana lapangan sederhana dari sisi waktu, biaya, dan akses — lalu memperkecilnya sampai ia benar-benar muat.
Sebelum lanjut
Siapkan satu pertanyaan nyata yang sedang kamu pegang: dari pekerjaan, dari organisasi tempatmu aktif, atau dari sesuatu yang mengganggumu di lingkungan sekitar. Tulis apa adanya, sekalipun masih berantakan. Pertanyaan itu akan kamu bawa sampai unit terakhir modul ini, dan bentuknya kemungkinan besar akan berubah — itu justru tandanya modul ini bekerja.