Tiga Jawaban Berbeda untuk Satu Pertanyaan Sederhana
Masalah yang hampir selalu datang lebih dulu
Anda diminta menulis riwayat singkat sebuah kampung, sebuah sekolah, atau usaha keluarga. Anda mulai dari cara yang paling masuk akal: bertanya kepada orang. Tetua kampung mengatakan pasar itu sudah ada "sejak zaman Belanda". Seorang guru menyebut tahun 1950-an. Sebuah unggahan di grup percakapan keluarga menyodorkan angka tahun yang jauh lebih tua, lengkap dengan foto hitam-putih tanpa keterangan apa pun.
Tiga jawaban, tiga arah, dan tidak satu pun disertai alasan mengapa ia layak dipercaya. Anda lalu mencari di internet. Yang muncul adalah tulisan-tulisan yang tampak saling menyalin: kalimatnya mirip, angkanya sama, dan tidak ada satu pun yang menyebut dari mana angka itu berasal. Kemiripan itu terasa seperti kesepakatan, padahal bisa jadi hanya penyalinan berantai dari satu sumber yang sejak awal tidak pernah diperiksa.
Di titik ini biasanya muncul dua reaksi yang sama-sama kurang menolong. Reaksi pertama: memilih versi yang paling sering muncul, dengan asumsi yang banyak diulang pasti benar. Reaksi kedua: menyerah pada kesimpulan bahwa sejarah itu "tergantung siapa yang bercerita", jadi semua versi sama saja. Kelas ini dibangun untuk menunjukkan bahwa ada jalan ketiga, dan jalan ketiga itu punya prosedur yang bisa dipelajari.
Kenapa kesulitan ini tidak bisa dihindari
Akar masalahnya sederhana tetapi jarang dinyatakan terang-terangan: peristiwa masa lalu sudah lewat dan tidak bisa diamati lagi. Seorang ahli kimia yang ragu pada hasil percobaannya dapat mengulang percobaan itu besok pagi. Seorang penulis sejarah tidak punya pilihan itu. Pembukaan pasar pada suatu pagi puluhan tahun lalu tidak bisa diulang, tidak bisa direkam ulang, dan tidak bisa disaksikan siapa pun hari ini.
Yang tersisa hanyalah jejak: selembar surat izin, buku kas yang tintanya memudar, sebuah foto, nama jalan, bangunan yang sudah dua kali direnovasi, dan ingatan orang-orang yang sekarang berusia lanjut. Dari potongan-potongan itulah sebuah tulisan sejarah dirakit. Artinya, setiap kalimat sejarah yang pernah Anda baca adalah hasil rakitan seseorang, bukan rekaman langsung dari masa lalu.
Konsekuensinya penting dan sering diabaikan: masa lalu tidak bisa dikutip begitu saja. Yang bisa dikutip hanyalah jejak dan tulisan orang lain tentang jejak itu. Karena itu, pertanyaan pertama seorang penulis sejarah bukan "apa yang terjadi", melainkan "apa yang tersisa dari kejadian itu, dan seberapa jauh sisa itu bisa dipercaya".
Yang akan Anda latih di kelas ini
Kelas ini melatih satu cara kerja yang dikenal sebagai metode sejarah. Cara kerja itu terdiri dari empat tahap: mencari dan mengumpulkan sumber (heuristik), menguji sumber (kritik), menyusun makna dari sumber yang lolos uji (interpretasi), lalu menuliskannya secara jujur sehingga jalan pikirannya bisa diperiksa orang lain (historiografi). Sepanjang kelas, keempat tahap itu akan dilatih satu per satu dengan bahan nyata.
Modul pembuka ini tidak akan mengajari Anda mencari arsip. Tugasnya lebih mendasar: memastikan Anda bisa membedakan tiga hal yang selama ini sering dianggap satu, yaitu peristiwa, jejak, dan tulisan sejarah. Selama tiga hal ini masih tercampur, semua teknik lanjutan akan terasa seperti aturan yang mengada-ada.
Setelah itu Anda akan melihat mengapa urutan keempat tahap tadi tidak boleh dibalik, dan apa akibatnya bila dibalik. Terakhir, Anda akan mengerjakan satu klaim sejarah populer bergaya media sosial dari awal sampai akhir, bukan untuk membuktikannya salah, melainkan untuk melatih pertanyaan yang seharusnya diajukan.
Sikap yang perlu dibawa
Ada satu kebiasaan yang perlu ditumbuhkan sejak sekarang: nyaman dengan jawaban "belum bisa dipastikan". Dalam kerja sejarah, kalimat itu bukan kegagalan, melainkan hasil yang sah dan sering kali paling jujur. Yang tidak sah adalah menutupi ketidakpastian dengan kalimat yang terdengar meyakinkan.
Bawalah satu kasus nyata milik Anda sendiri ke kelas ini, misalnya riwayat sekolah tempat Anda dulu belajar, asal-usul nama kampung Anda, atau satu unggahan sejarah yang pernah Anda ragukan. Semua latihan akan jauh lebih berguna kalau bahannya benar-benar Anda pedulikan.