Berhenti di Tengah Jalan: Masalah yang Selalu Datang Terlambat
Tiga cerita yang terlalu sering terulang
Cerita pertama. Andi sudah menyebar kuesioner kepada 180 pedagang di tiga pasar. Angkanya sudah masuk ke lembar kerja. Ketika seseorang bertanya, pertanyaan penelitianmu sebenarnya apa, Andi menjawab: ingin tahu tentang penggunaan aplikasi kasir digital. Itu topik, bukan pertanyaan. Sebulan berikutnya Andi mencoba menyusun pertanyaan yang pas dengan data yang terlanjur ada. Data itu tidak pernah benar-benar mau menjawab apa pun.
Cerita kedua. Sinta punya rekaman wawancara empat belas jam dari dua belas orang. Semua narasumber ramah, semua cerita menarik. Sinta membuka berkas transkrip, membacanya sekali, lalu menutupnya lagi. Ia tidak tahu harus mulai dari mana karena sejak awal tidak pernah memutuskan apa yang ia cari di dalam cerita orang.
Cerita ketiga. Sebuah tim kecil di instansi daerah ditugasi menilai apakah program pelatihan mereka berhasil. Mereka mengumpulkan daftar hadir, foto kegiatan, dan kesan peserta. Saat laporan diminta, pimpinan bertanya: berhasil dibandingkan dengan apa? Tidak ada jawaban, karena tidak pernah ada kondisi pembanding yang direncanakan sejak awal.
Ketiga cerita ini gagal karena satu sebab yang sama, bukan tiga sebab berbeda: pekerjaan pengumpulan data dimulai sebelum perancangan selesai. Tenaga habis, waktu habis, dan biaya sudah keluar untuk sesuatu yang secara struktur memang tidak bisa menghasilkan jawaban.
Yang membuat ini menyakitkan
Kesalahan pada tahap perancangan hampir selalu baru terasa pada tahap yang jauh di belakangnya. Rumusan pertanyaan yang kabur tidak menimbulkan rasa sakit hari itu juga. Rasa sakitnya muncul enam bulan kemudian, saat data sudah terkumpul dan ternyata tidak nyambung. Pada titik itu, memperbaikinya berarti mengulang, bukan menambal.
Inilah alasan modul ini ditaruh paling depan. Sebelum belajar menyusun pertanyaan penelitian, memilih partisipan, atau merancang instrumen, Anda perlu punya peta: gambar utuh tentang apa yang sedang dikerjakan, di titik mana Anda berada, dan pintu apa yang tertutup begitu satu keputusan diambil.
Rancangan itu bukan daftar bab
Banyak orang membayangkan merancang penelitian sebagai mengisi kotak-kotak dokumen: latar belakang, rumusan masalah, tinjauan pustaka, metode. Cara pandang ini membuat pekerjaan terasa seperti mengisi formulir. Selama semua kotak terisi, dokumen dianggap selesai.
Padahal yang sedang dirancang bukan dokumennya, melainkan serangkaian keputusan yang saling mengunci. Paling tidak ada enam keputusan besar:
- Masalah apa yang layak diteliti, dan buktinya apa bahwa itu memang masalah.
- Pertanyaan apa yang akan dijawab, dan sesempit apa batasnya.
- Pendekatan seperti apa yang mampu menjawab pertanyaan itu.
- Data apa yang dibutuhkan, dari siapa atau dari mana, dan bagaimana cara memilihnya.
- Dengan alat apa data dikumpulkan, dan bagaimana data itu akan diperlakukan.
- Kesimpulan macam apa yang nanti boleh ditulis, dan yang tidak boleh.
Dokumen proposal hanyalah cara menuliskan keenam keputusan tadi supaya bisa diperiksa orang lain. Kalau keputusannya kosong, dokumen setebal apa pun tetap kosong.
Yang akan Anda dapat dari modul ini
Di akhir modul, Anda diharapkan bisa melakukan tiga hal yang sangat praktis.
Pertama, membedakan pekerjaan merancang dari pekerjaan melaksanakan dan melaporkan, lalu menyebutkan keluaran apa saja yang wajib sudah ada sebelum satu pun data boleh dikumpulkan.
Kedua, menganalisis rantai sebab-akibat antartahap: mengapa memilih bentuk pertanyaan tertentu otomatis menutup sebagian pilihan analisis, dan mengapa cara memilih partisipan menentukan sejauh mana hasil boleh diberlakukan.
Ketiga, menerapkan peta itu pada satu penelitian nyata yang sedang berjalan, milik Anda sendiri atau milik orang lain, lalu menyimpulkan dengan jujur: sebenarnya penelitian ini sedang berada di tahap mana, dan pekerjaan apa yang harus dikerjakan berikutnya.
Satu catatan sebelum lanjut. Modul ini tidak akan mengajari Anda rumus atau teknik analisis apa pun. Modul ini mengajari cara melihat keseluruhan. Orang yang bisa melihat keseluruhan jarang tersesat di detail; orang yang hanya hafal detail hampir selalu tersesat.